Terapi Gen untuk Regenerasi Saraf Optik: Memodulasi PTEN/mTOR, KLF, dan Sox11
Pendahuluan Kehilangan penglihatan akibat cedera saraf optik atau glaukoma terjadi karena sel-sel ganglion retina (RGC) gagal menumbuhkan kembali akso...
Penelitian mendalam dan panduan ahli untuk menjaga kesehatan visual Anda.
Pendahuluan Kehilangan penglihatan akibat cedera saraf optik atau glaukoma terjadi karena sel-sel ganglion retina (RGC) gagal menumbuhkan kembali akso...
Mulai tes lapangan visual gratis Anda dalam waktu kurang dari 5 menit.
Mulai tes sekarangImunogenisitas adalah kemampuan suatu zat untuk memicu respons sistem kekebalan tubuh, yaitu reaksi sel dan produksi antibodi terhadap zat tersebut. Istilah ini sering dipakai untuk menilai seberapa besar tubuh mengenali dan bereaksi terhadap obat biologis, vaksin, atau bahan asing lain yang masuk ke dalam tubuh. Jika suatu produk memiliki imunogenisitas tinggi, tubuh bisa membuat antibodi yang menetralkan efek terapi atau menyebabkan peradangan dan reaksi alergi. Imunogenisitas penting karena bisa mengurangi efektivitas pengobatan, menimbulkan efek samping, atau mengubah keamanan suatu terapi seiring waktu. Para peneliti dan produsen obat mengevaluasi imunogenisitas selama uji klinis untuk meminimalkan risiko dan menyesuaikan dosis atau desain produk. Memahami imunogenisitas membantu dokter memilih perawatan yang lebih aman dan memantau pasien untuk reaksi yang tidak diinginkan. Ada beberapa strategi untuk mengurangi imunogenisitas, seperti merancang protein yang lebih mirip dengan komponen tubuh sendiri, menggunakan pengawet dan formulasi khusus, atau memberikan obat bersamaan yang menekan respons imun sementara. Pengujian laboratorium dapat mendeteksi antibodi terhadap obat, sehingga dokter bisa menentukan apakah respons imun memengaruhi hasil terapi. Karena pengaruhnya terhadap keselamatan dan efektivitas, imunogenisitas juga menjadi pertimbangan penting dalam regulasi dan persetujuan obat baru.